Sunday, January 02, 2011

Two Way Monolouge

linglung, aku berjalan mendekati sahabatku
sahabat baik yang selalu mendengar caci maki tak beradab
hingga pujian memabukkan

"Hey kamu, tahu kan, dia jalang ?"
lalu kutekan satu bagian dari dirinya
"Crrrssshhhrrrssshh... pricikpricikpricik... Bloubukbloubukblouk..."
Jawabannya panjang. Intinya hanya satu. Sahabatku ini sependapat
Selalu begitu. Dia mengiyakan aku. Betapa senangnya
"Lihat perutku dirusaknya. Hatiku dicuri. Sebentar lagi pasti aku mati tanpa hati!"
Mulai emosi, aku menekan lebih dalam.
"Crrrrrssshhhhssshhhhsshhh... pricippricikpricik... crrrsssshhhhhh... bloubukbloubukbloubuk..."
Nah kan, dia sedang mengasihaniku
"BUUKKK!!!!!!"
Aku memukulnya keras. tak lama tanganku seolah meronta, "Babi! Sakit tauk!"
"Sialan! aku tidak butuh kamu kasihani! setan!"
Aku tak peduli pada makian si tangan.
kutekan lagi sahabatku lebih keras
"Crrrsssshhhhhhhcrrrssshhhhh... pricikpricikpricikpricikkk crrssshhhhh.. bloubukbloubuk"
"Iya, kali ini aku maafkan. tapi kamu setuju kan ? Dia jalang. Tidak harus mengangkang untuk menjadi jalang. iya kan ?"
Kutekan lagi, kali ini perlahan.
"Crrrrssshhhhcrrrssshhhhh.. Pricikpricikpricik... Bloubukbloubukbloubuk..."

Aku tersenyum.
Kali ini jelas, pasti dia memang jalang.
Galon saja menumpahkan isi airnya ketika aku berbicara tentang dia.
Kali ini membanjiri setengah kamarku.
Aku beranjak ke kasur.
Tidur pulas.

0 comments: